Buah
jatuh tak jauh dari pohonnya, peribahasa ini mungkin tepat untuk Haekal
Muhammad yang suka berdebat bahasa Inggris. Ibunya yang berprofesi sebagai guru
bahasa Inggris, membuat dirinya mulai menyukai bahasa resmi internasional
tersebut sejak SD.
Kesukaannya
dengan bahasa Inggris, membuat Haekal, sapaan akrabnya, aktif mengikuti
ekstrakurikuler debat bahasa Inggris sejak kelas satu SMA. Bahkan, cowok
kelahiran 23 Januari 1995 ini pernah meraih juara tiga lomba debat bahasa
Inggris SMA tingkat kota Banda Aceh.
Saat
ini bahasa Inggris memang penting, namun menurut Haekal, debat bahasa Inggris
merupakan hal yang berbeda dengan bahasa inggris yang didapatkan di kelas pada
umumnya.
“Debat
itu lebih komplit, nggak cuma belajar teori dan ngomong bahasa Inggris, tapi
disitu aku diajarin buat belajar mendengar atau merespon orang lain, tapi yang
paling penting, aku dituntut untuk berpikir lebih kritis dan berpikir cepat
untuk ngerespon omongan lawan debat,”
ujarnya.
Kesibukan
Haekal di bangku kuliah, nggak membuat aktivitas debatnya berkurang. Bahkan
cowok asal Banda Aceh ini menjadi salah satu pendiri Unit Kegiatan
Kemahasiswaan (UKK) Social and Political
Science English Study Club (Species)
di Fakultasnya. Selain itu, berkat kemahirannya berdebat, dirinya berhasil
meraih juara satu National University
Debating Championship (NUDC) Kopertis Jawa Tengah Tahun 2014.
“Gak
nyangka bisa jadi juara, tapi ini kan tingkat provinsi, masih ada tingkat
nasional. Seneng banget, tapi masih merasa belum puas, jadi masih harus banyak
belajar,” kata Haekal dengan bangga.
Jarang pulang ke rumah
Kesibukannya
di dunia debat, membuat Haekal jarang pulang ke kampung halamannya di Banda
Aceh, karena biasanya kompetisi debat diadakan pada libur semester.
“Kadang
saat libur panjang aku nggak pulang,
karena diharusin latihan buat ikut
kompetisi debat ngewakilin Undip, jadinya
debat menjadi prioritasku dan nggak boleh manja ngejalaninnya,” tuturnya.
Selain
pernah mengikuti berbagai kompetisi, Haekal juga pernah menjadi peserta Model
United Nations (MUN) yang merupakan sidang simulasi PBB. Dimana para peserta
berdiskusi mengikuti prosedur sidang PBB, mewakili suatu negara, dan membahas
suatu tema seolah-olah berada di sidang PBB sebenarnya.
“Disitu aku jadi delegasi dari Negara Syria,”
ujar cowok yang saat ini menjabat sebagai President
Undip Debating Forum itu.
Nggak
mudah untuk mahir berdebat, awalnya Haekal pun mengalami kesulitan menjawab
pertanyaan seseorang yang menggunakan bahasa Inggris.
“Awal
belajar debat rasanya susah banget,
nggak tau sama sekali harus ngejawab apa, kadang tau harus jawab apa tapi nggak
bisa ngomongnya, terus sering juga ngeblank.”
Terus belajar, rutin berlatih, dan membiasakan
diri menggunakan bahasa Inggris dalam kehidupan sehari-hari merupakan kunci
bagi Haekal untuk menjadi pendebat yang handal.












